Rabu, 26 November 2014

RUNTUHNYA NASIONALISME OLAH RAGA KITA
OLEH:HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si

Kondisi dunia yang semakin pelik dengan berbagai permasalahan yang mendera di dalamnya ternyata sangat berpengaruh terhadap cara pandang manusianya dalam menentukan langkah untuk pemenuhan kebutuhan dirinya. Perbedaan-perbedaan cara pandang untuk menggapai keberhasilan hidup berdampak luas terhadap langkah-langkah yang harus di tempuh dalam prosesnya. Logika dan teori yang di kembangkan memiliki tingkat kekuatan dengan dasar langkah sendiri-sendiri yang berasumsi dasarnya hanya untuk keberhasilan diri sendiri dan kelompok mereka. Mencari konsep dan dasar yang kuat untuk pondasi langkah guna mempertahankan kebenaran diri menjadi strategi jitu untuk benteng penguatan kelompok-kelompok kecil yang ingin mendapatkan kemenangan yang semu menodai kebersamaan nasional.
Nasionalisme adalah sebuah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Dalam proses kehidupan berbangsa Indonesia kita mengenal tonggak-tonggak nasionalisme dengan adanya peristiwa-peristiwa antara lain: Kebangkitan nasional, Sumpah pemuda, Proklamasi serta lambang-lambang: Pancasila dan UUD 1945,bendera Merah- Putih, Bhinneka Tunggal Ika dan Burung Garuda. Sebagai “spirit of power” berbangsa yang sedang melakukan perjuangan untuk mencapai kebebasan dan kejayaan di masa yang akan datang, peristiwa dan lambang yang sudah di jadikan kekuatan nasionalisme bersama seakan hanya sebuah kesepakatan yang semu semata tanpa memiliki daya rekat sehingga kekuatannya sudah semakin tipis. Roh utama dari nasionalisme adalah adanya persatuan dan kesamaan pandang untuk membela nama baik bangsanya.
Banyaknya keinginan dan egoisme diri atas nama rakyat menjadi hal yang banyak terjadi di lakukan para pemimpin berbagai elemen masyarakat.Para pejabat dan pemimpin daerah yang lebih memikirkan daerahnya di bandingkan kepentingan kebersamaan berbangsa dan bernegara merupakan sebuah bukti nyata lemahnya nasionalisme berbangsa. Raja-raja kecil yang mengeruk keuntungan pribadi dengan topeng otonomi daerah tentu menjadi pengikis dari nasionalisme yang semakin menipis dari dalam sanubari warga negara ini. Pemimpin organisasi selalu sibuk mencari peluang untuk membesarkan organisasi yang mereka pimpin dengan mencari berbagai cara tanpa menggunakan logika dan nalar nasionalisme lagi.
Pada dimensi yang lain di dunia olah raga kita, penulis melihat banyak cabang olah raga yang mulai terkikis rasa nasionalisme di dada. Sepak bola yang merupakan cabang olah raga yang menjadi idola masyarakat seakan hanya menjadi bahan eksplorasi kepentingan sebagian manusia yang sok peduli dengan olah raga ini. Melalui olah raga seharusnya mampu membangkitkan persatuan untuk menggalang kekuatan sehingga berperan dalam prestasi  untuk mengangkat nama baik bangsa dan negara pada dunia internasional justru di jadikan ajang perebutan lahan untuk mengeruk kepentingan pribadi dan kelompok. Berbicara atas nama kelompok yang selalu bersikukuh tanpa ada kemauan untuk mencari jalan keluar agar mampu menghasilkan karya terbaik untuk bangsa ini, dengan tanpa malu kepada Sang Khalik yang tahu segalanya.
Filosofi sepak bola yang sangat membutuhkan kolektifitas tinggi dengan saling mengisi antar lini dan blok tim benar-benar hilang dari pemikiran para pengurus sepak bola ini. Kompetisi yang di gulirkan menjadi tanpa arah yang pasti, karena tidak ada ending yang di harapkan oleh masyarakat yaitu: terbentuknya tim nasional yang kuat untuk mewakili negara ini di ajang antar negara.Kompetisi hanya menjadi ajang untuk mengeruk keuntungan dari para pengelola tanpa ada tujuan untuk membentuk kekuatan timnas Indonesia.Kabar kekalahan dan terpuruknya nama bangsa dan negara di dunia luar seakan hanya menjadi berita yang biasa terjadi.” Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara” yang tertulis di dalam Undang-undang dasar 1945 menjadi bias dan tidak lagi di perhitungkan oleh para pelaku olah raga favorit masyarakat ini. 
Kita layak belajar dari pemain-pemain yang ada di luar negeri yang selalu memiliki kebanggaan tinggi terhadap panggilan tim nasional negeri mereka walaupun mereka sudah mendapat service yang memuaskan dari klub tempat mereka bermain. Kita lihat piala dunia yang baru sata di helat di penuhi dengan pelakon-pelakon sepak bola yang seharusnya melakukan kiprah di klub mereka masing-masing. Di depan kita menunggu lawan-lawan yang tangguh dalam putaran pra piala Asia, dengan kekuatan kita yang menyatu saja berat, apalagi dengan keadaan amburadul seperti ini.Tim-tim kuat yang siap menerkam kita sudah mempersiapkan diri dengan baik, mengapa kita justru menikmati untuk di lumat mereka...???          
Dari paparan di atas, penulis hanya mampu mengajak para pembaca untuk tidak pernah patah arang mengharap terjadinya proses bangkitnya Nasionalisme olah raga Indonesia . Upaya penyatuan ide dan pandangan untuk menggali potensi anak bangsa baik yang ada di dalam negeri dan yang di luar melalui proses naturalisasi guna mengangkat nama baik bangsa ini di percaturan Internasional. Hilangkan perbedaan, kepentingan diri dan kelompok yang merupakan kebanggan semu kita, mari kita menghadapi tekanan dari luar dengan menggumpalkan kekuatan kita sebagaimana para pejuang bangsa yang sudah mengorbankan harta,jiwa dan raga mereka. Marilah kita sadari dan ingat masa lalu saat kita memperjuangkan keberhasilan bangsa ini dengan bermodalkan persatuan dan kesatuan sehingga mampu meraih kemerdekaan.
                       
                                                                        Penulis
                                                -Pengurus KONI kabupaten Demak
                                                -Guru SMP N 3 Mranggen,Demak
                                                -Pemerhati masalah olah raga dan sosial


                                                                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar