PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KURANG DI PERHATIKAN…?
Berdasarkan keputusan pemerintah
tentang pelaksanaan ujian nasional hanya di laksanakan terhadap 4 mata
pelajaran yaitu Matematika, Bahasa Indonesia,Ilmu Pengetahuan Alam dan Bahasa
Inggris. Dengan dalih untuk peningkatan kualitas pendidikan nasional negeri
ini, ternyata langkah – langkah kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya terjadi di masyarakat di lakukan. Walaupaun sudah
mendapat banyak masukan dari berbagai kalangan, termasuk Mahkamah Konstitusi
tetapi pemerintah bersemboyan” anjing menggonggong kafilah berlalu” untuk tetap
menjalankan ujian nasional. Sehingga banyak terjadi berbagai masalah akibat
dari kebijakan yang di ambil pemerintah tersebut.
Dampak negatif yang nyata akibat
adanya Ujian nasional adalah menurunnya perhatian dan penghargaan siswa, orang
tua dan para pengelola pendidikan dapat di lihat dari fenomena siswa mengurangi
frekwensi belajar pelajaran yang tidak di uji nasional. Tidak ada orang tua
yang mendorong dan menugaskan anaknya untuk belajar / les privat mata pelajaran
non ujian nasional, begitu juga lembaga – lembaga bimbingan belajar tidak ada
yang membuka bimbingan selain pelajaran uji nasional, Sehingga dari sana tampak
jelas akan rendahnya penghargaan terhadap materi pelajaran yang di anggap bukan
inti tersebut.
Para
kepala sekolah dan pejabatpun seakan lebih menghargai hasil ujian yang baik
pada mata pelajaran tertentu di bandingkan Ilmu Pengetahuan Sosial. Mereka
memandang memiliki gengsi dan prestise yang lebih di hadapan masyarakat.
Semua
jenis mata pelajaran yang di berikan di sekolah tentunya menginginkan mendapat
apresiasi yang sama dari para peserta didik, wali murid, guru, pemerintah
maupun para pengelola pendidikan lainnya. Bila kita berkenan mengkaji
korelasi tentang pelajaran yang di
berikan di sekolah dan permasalahan yang terjadi di masyarakat, tentunya kita
harus berpikir ulang untuk hanya melaksanakan ujian nasional dengan 4 mata
pelajaran yang akhirnya sangat membuat resah berbagai kalangan.
Karena pendidikan yang sebenarnya merupakan
“proses pendewasaan terhadap manusia muda”, tentu di butuhkan pengetahuan yang
sangat luas tentang kejadian yang sudah lampau, yang terjadi dan akan terjadi
di masyarakat, hal tersebut tentunya akan di dapatkan di pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial ( IPS ). Dari sana siswa akan mendapatkan informasi yang
nyata tentang berbagai keadaan dan masalah yang sering terjadi dimasyarakat.
Rendahnya rasa semangat cinta tanah
air, mulai terkikisnya toleransi dan kebersamaan bernegara yang di tandai
dengan melemahnya semangat untuk berprestasi demi mengangkat nama besar negara
di mata international adalah salah satu bukti akan pentingnya di berikan perhatian
yang lebih terhadap mata pelajaran IPS. Dengan mempelajari masa lalu dan
potensi yang di miliki oleh negara ini tentu akan mampu membangkitkan semangat
siswa untuk berkarya demi diri, dan daerahnya sehingga semangat nasionalisme
sebagai muaranya akan terbentuk dengan sendirinya. Sosialisasi dan aktualisasi
diri siswa merupakan wahana untuk pematangan diri siswa sebelum mereka terjun
pada kehidupan yang sebenarnya di tengah –tengah masyarakat kelak.
Kemampuan
untuk mengetahui batas wilayah daerah dan Negara yang di tempati tentu akan di
ikuti dengan bangkitnya rasa cinta tanah air yang tinggi. Negara kita sangat
luas dan membutuhkan kepedulian kita untuk merawat dan mengelola segala potensi
yang ada di dalamnya, sehingga kita mampu membuat rencana jangka pendek dan
panjang dalam rangka optimalisasi sumber daya yang kita miliki untuk cita-cita
membuat rakyat yang sejahtera.
Pendidikan karakter
yang coba di sodorkan oleh praktisi pendidikan ternyata hanya sebuah konsep
yang tertutup oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia luar. Informasi
melalui jejaring sosialdan berbagai media akan lebih mewarnai hati dan pola
pikir siswa di bandingkan dengan yang d i dapatkan di bangku sekolah.Akankah
nilai sosial calon penerus bangsa ini luluh tergerus oleh kemajuan jaman....???
Bila
para pakar psikologi menyampaikan bahwa keberhasilan kita dalam kehidupan 80%
di tentukan oleh kecerdasan emosi ( EMOTIONAL INTELLEGENSI) tentu layak untuk
kita kaji bersama betapa kecerdasan emosi yang di maksudkan sangat banyak terdapat
di dalam ilmu social. Ineraksi social, tata komunikasi yang santun , kemampuan
mengelola dan mengerti hati orang lain merupakan hal yang sangat penting untuk
di tonjolkan saat kita sampaikan mata pelajara IPS.
Sehingga
penulis berpikir untuk mengajak kaum peduli pendidikan berkenan mencari cara
agar pemerintah selaku pemegang kebijakan berkenan mencari alternative solusi
yang lebih bijak demi perbaikan anak-anak kita di masa yang akan datang.
HERY
SARWANTO,S.Pd,M.Si
Guru
IPS SMP N 3 Mranggen, Kabupaten Demak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar