PERTARUNGAN PROMOSI DI DUNIA PENDIDIKAN MENYAMBUT
PESTA PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU
Setiap
tahun ajaran akan berakhir maka selalu di ikuti dengan proses berikutnya yang
sangat membutuhkan konsentrasi dan strategi jitu untuk membuat tercapainya
tujuan yang menjadi target. Bahkan sebelum ujian penentuan kelulusan di lakukan
selalu saja para pelaku pendidikan sudah membagi konsentrasi untuk mencari
peserta didik yang akan mengikuti proses pembelajaran di tahun ajaran
berikutnya. Sebuah sinergi dan proses yang berkesinambungan dalam rangka memenuhi
harapan semua pihak yang bersinggungan dengan para pelaku peningkatan kualitas
manusia muda sebagai calon objek didik.
Benarkah yang di lakukan adalah
upaya untuk memajukan dunia pendidikan kita...???. Apakah yang di lakukan tidak
merusak keindahan alam...?,karena memasang baliho di sembarang tempat dan
pohon. Bisakah mereka mengelola persaingan dengan positif dan tidak saling
mencederai orang dan institusi lain...? Tidakkah yang terjadi hanya merupakan
upaya untuk mengeruk keuntungan diri...? Sanggupkah para pelaku pendidikan
melakukan upaya promosi dengan cara jujur dan mendidik...?
Demikian banyak pertanyaan yang
mengalir di dalam benak masyarakat kita dewasa ini yang peduli dengan
pelestarian dan keindahan alam dalam menyikapi banyaknya fenomena pemasangan
spanduk untuk memasarkan institusi diri yang ada dalam dunia pendidikan kita.
Banyak cara yang dilakukan dalam rangka mencapai cita-cita dan kesejahteraan
diri dan kelompok masing-masing. Banyaknya baliho yang bertebaran yang
menyeberang di jalan raya seakan memberikan janji-janji yang manis kepada calon
konsumen pendidikan. “Kualitas tinggi,lulus
langsung dapat kerja,gratis,pendidikan modern” adalah sebagian
janji-janji yang banyak di berikan melalui spanduk-spanduk yang terpampang di
jalan-jalan.
Bila
kita telusuri dan lakukan pengamatan lebih mendekat ternyata tulisan yang
terpajang hanya merupakan sebagian dari aksi yang di lakukan untuk menarik
perhatian calon peserta didik dan orang tuannya.Kita akan lihat dan dengar
banyaknya upaya lain melalui cara-cara yang mungkin agak kurang terpuji bila di
kaji dari sudut pandang pendidikan bermoral dan religius.
Pemberian yang dilakukan dengan
pamrih merupakan tindakan yang kurang terpuji. Ada lembaga sekolah yang
memberikan seragam sekolah, seragam pramuka, seragam olah raga kepada calon
siswa yang di ikuti dengan janji-janji yang lain tentu sangat menarik untuk
mereka. Kemudahan dan kenikmatan semu yang di tawarkan kepada para calon
pengguna jasa pendidikan hanyalah ibarat mereka menggali lubang untuk
memberikan service yang menarik, sebenarnya sebuah jebakan yang nanti akan di
ikutilangkah berikutnya untuk mendapatkan keuntungan.Mereka tentu sudah
memperhitungkan pula darimana galian lubang yang menganga tersebut akan di
tutup agar rumah tangga institusi mereka tidak mengalami masalah.
Bahkan
ada cara yang lebih ekstrim lagi yang di lakukan untuk menarik simpati masyarakat
dengan mengatrol nilai ujian. Menggunakan segala cara yang di kembangkan oleh para
panitia untuk membuat hasil siswa yang mengikuti ujian menjadi tinggi dan
mendapatkan prosentase kelulusan yang tinggi.Hasil kelulusan yang
tinggi,apalagi 100% akan mampu menambah daya tarik masyarakat untuk
mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut.Perilaku pendidikan ketidakjujuran
yang di lakukan tidak pernah tereksplor, karena rapatnya model kerahasiaan
strategi yang di kembangkan. Target pemenuhan kuota kebutuhan peserta didik
yang penting terpenuhi adalah tujuan utama mereka,walaupun janji-janji untuk
memberikan kualitas pendidikan yang baik seakan ibarat menantikan bulan
terjatuh dari langit,karena sulit untuk didapatkan oleh siswa.
Berbagai
tingkatan sekolah,dari SD/MI,SMP/MTS,SMA/SMK/MA sampai perguruan tinggi memang
di tuntut pendai melakukan kreasi untuk menarik peserta didik
sebanyak-banyaknya. Cara-cara santun dan tidak menodai arti kejujuran dan
kebenaran akan lebih baik di bandingkan dengan melakukan pembohongan publik.
Pemasangan baliho dan spanduk di batang pohon di pinggir jalan tentu merupakan
langkah yang kurang tepat di lakukan oleh kita insan berpendidikan. Di samping
tidak sedap di pandang mata juga akan mengurangi kekuatan dan daya tahan hidup
bagi tanaman di pinggir jalan.
Upaya
promosi harus di lakukan oleh pembuatan produk, termasuk di dalamnya para
produsen jasa pendidikan kepada calon peserta didik .Cara-cara yang inovatif
dan tidak melempar janji yang sangat berat untuk di tepati tentu lebih bijaksana
dan berdampak baik bagi dunia pendidikan kita.Menanggalkan “Negatif promotions” tentu akan lebih baik, karena merupakan
service yang pertama kepada orang tua dan calon peserta didik.Menunjukkan karya
nyata berupa perilaku yang simpatik murid yang sudah ada dan prestasi yang
tinggi adalah cara bijak dan terpuji dan memiliki dampak panjang bagi
promosi-promosi berikutnya di tahun ajaran depan.
Hasil
yang baik bagi peningkatan pendidikan karakter dan mencintai alam semesta demi
kemajuan bangsa tentu yang sangat kita harapkan di masa yang akan datang,
Tentunya kesadaran, kesabaran dan kepedulian para pelaku pendidikan untuk unjuk” pamer prestasi” tentu sangat kita
harapkan dan bukan hanya unjuk “pamer
janji” .Insya Allah anak-anak masa depan akan mendapatkan bimbingan yang
lebih baik dan luas dalam merangkai jalan menuju keberhasilannya masing-masing
sesuai bakat dan potensi yang di miliki tanpa terjerumus oleh janji –janji yang
nanti akan menuntut mereka untuk membayar demi keberhasilan dan kemenangan
institusi yang menjual negatif promosi,Amin
HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si
SMP.N 3 MRANGGEN,DEMAK
PEMERHATI MASALAH SOSIAL DAN OLAH RAGA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar