Minggu, 03 Agustus 2014

PENDIDIKAN ADALAH HAK WARGA NEGARA,BUKAN ALAT SEBAGIAN MANUSIA UNTUK....


PERTARUNGAN PROMOSI DI DUNIA PENDIDIKAN MENYAMBUT PESTA PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

            Setiap tahun ajaran akan berakhir maka selalu di ikuti dengan proses berikutnya yang sangat membutuhkan konsentrasi dan strategi jitu untuk membuat tercapainya tujuan yang menjadi target. Bahkan sebelum ujian penentuan kelulusan di lakukan selalu saja para pelaku pendidikan sudah membagi konsentrasi untuk mencari peserta didik yang akan mengikuti proses pembelajaran di tahun ajaran berikutnya. Sebuah sinergi dan proses yang berkesinambungan dalam rangka memenuhi harapan semua pihak yang bersinggungan dengan para pelaku peningkatan kualitas manusia muda sebagai calon objek didik.
            Benarkah yang di lakukan adalah upaya untuk memajukan dunia pendidikan kita...???. Apakah yang di lakukan tidak merusak keindahan alam...?,karena memasang baliho di sembarang tempat dan pohon. Bisakah mereka mengelola persaingan dengan positif dan tidak saling mencederai orang dan institusi lain...? Tidakkah yang terjadi hanya merupakan upaya untuk mengeruk keuntungan diri...? Sanggupkah para pelaku pendidikan melakukan upaya promosi dengan cara jujur dan mendidik...?
            Demikian banyak pertanyaan yang mengalir di dalam benak masyarakat kita dewasa ini yang peduli dengan pelestarian dan keindahan alam dalam menyikapi banyaknya fenomena pemasangan spanduk untuk memasarkan institusi diri yang ada dalam dunia pendidikan kita. Banyak cara yang dilakukan dalam rangka mencapai cita-cita dan kesejahteraan diri dan kelompok masing-masing. Banyaknya baliho yang bertebaran yang menyeberang di jalan raya seakan memberikan janji-janji yang manis kepada calon konsumen pendidikan. “Kualitas tinggi,lulus  langsung dapat kerja,gratis,pendidikan modern” adalah sebagian janji-janji yang banyak di berikan melalui spanduk-spanduk yang terpampang di jalan-jalan.
Bila kita telusuri dan lakukan pengamatan lebih mendekat ternyata tulisan yang terpajang hanya merupakan sebagian dari aksi yang di lakukan untuk menarik perhatian calon peserta didik dan orang tuannya.Kita akan lihat dan dengar banyaknya upaya lain melalui cara-cara yang mungkin agak kurang terpuji bila di kaji dari sudut pandang pendidikan bermoral dan religius.
            Pemberian yang dilakukan dengan pamrih merupakan tindakan yang kurang terpuji. Ada lembaga sekolah yang memberikan seragam sekolah, seragam pramuka, seragam olah raga kepada calon siswa yang di ikuti dengan janji-janji yang lain tentu sangat menarik untuk mereka. Kemudahan dan kenikmatan semu yang di tawarkan kepada para calon pengguna jasa pendidikan hanyalah ibarat mereka menggali lubang untuk memberikan service yang menarik, sebenarnya sebuah jebakan yang nanti akan di ikutilangkah berikutnya untuk mendapatkan keuntungan.Mereka tentu sudah memperhitungkan pula darimana galian lubang yang menganga tersebut akan di tutup agar rumah tangga institusi mereka tidak mengalami masalah.  
Bahkan ada cara yang lebih ekstrim lagi yang di lakukan untuk menarik simpati masyarakat dengan mengatrol nilai ujian. Menggunakan  segala cara yang di kembangkan oleh para panitia untuk membuat hasil siswa yang mengikuti ujian menjadi tinggi dan mendapatkan prosentase kelulusan yang tinggi.Hasil kelulusan yang tinggi,apalagi 100% akan mampu menambah daya tarik masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut.Perilaku pendidikan ketidakjujuran yang di lakukan tidak pernah tereksplor, karena rapatnya model kerahasiaan strategi yang di kembangkan. Target pemenuhan kuota kebutuhan peserta didik yang penting terpenuhi adalah tujuan utama mereka,walaupun janji-janji untuk memberikan kualitas pendidikan yang baik seakan ibarat menantikan bulan terjatuh dari langit,karena sulit untuk didapatkan oleh siswa.
Berbagai tingkatan sekolah,dari SD/MI,SMP/MTS,SMA/SMK/MA sampai perguruan tinggi memang di tuntut pendai melakukan kreasi untuk menarik peserta didik sebanyak-banyaknya. Cara-cara santun dan tidak menodai arti kejujuran dan kebenaran akan lebih baik di bandingkan dengan melakukan pembohongan publik. Pemasangan baliho dan spanduk di batang pohon di pinggir jalan tentu merupakan langkah yang kurang tepat di lakukan oleh kita insan berpendidikan. Di samping tidak sedap di pandang mata juga akan mengurangi kekuatan dan daya tahan hidup bagi tanaman di pinggir jalan.
Upaya promosi harus di lakukan oleh pembuatan produk, termasuk di dalamnya para produsen jasa pendidikan kepada calon peserta didik .Cara-cara yang inovatif dan tidak melempar janji yang sangat berat untuk di tepati tentu lebih bijaksana dan berdampak baik bagi dunia pendidikan kita.Menanggalkan “Negatif promotions” tentu akan lebih baik, karena merupakan service yang pertama kepada orang tua dan calon peserta didik.Menunjukkan karya nyata berupa perilaku yang simpatik murid yang sudah ada dan prestasi yang tinggi adalah cara bijak dan terpuji dan memiliki dampak panjang bagi promosi-promosi berikutnya di tahun ajaran depan.   
Hasil yang baik bagi peningkatan pendidikan karakter dan mencintai alam semesta demi kemajuan bangsa tentu yang sangat kita harapkan di masa yang akan datang, Tentunya kesadaran, kesabaran dan kepedulian para pelaku pendidikan untuk unjuk” pamer prestasi” tentu sangat kita harapkan dan bukan hanya unjuk “pamer janji” .Insya Allah anak-anak masa depan akan mendapatkan bimbingan yang lebih baik dan luas dalam merangkai jalan menuju keberhasilannya masing-masing sesuai bakat dan potensi yang di miliki tanpa terjerumus oleh janji –janji yang nanti akan menuntut mereka untuk membayar demi keberhasilan dan kemenangan institusi yang menjual negatif promosi,Amin

HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si
SMP.N 3 MRANGGEN,DEMAK
PEMERHATI MASALAH SOSIAL DAN OLAH RAGA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar