Rabu, 26 November 2014

RUNTUHNYA NASIONALISME OLAH RAGA KITA
OLEH:HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si

Kondisi dunia yang semakin pelik dengan berbagai permasalahan yang mendera di dalamnya ternyata sangat berpengaruh terhadap cara pandang manusianya dalam menentukan langkah untuk pemenuhan kebutuhan dirinya. Perbedaan-perbedaan cara pandang untuk menggapai keberhasilan hidup berdampak luas terhadap langkah-langkah yang harus di tempuh dalam prosesnya. Logika dan teori yang di kembangkan memiliki tingkat kekuatan dengan dasar langkah sendiri-sendiri yang berasumsi dasarnya hanya untuk keberhasilan diri sendiri dan kelompok mereka. Mencari konsep dan dasar yang kuat untuk pondasi langkah guna mempertahankan kebenaran diri menjadi strategi jitu untuk benteng penguatan kelompok-kelompok kecil yang ingin mendapatkan kemenangan yang semu menodai kebersamaan nasional.
Nasionalisme adalah sebuah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Dalam proses kehidupan berbangsa Indonesia kita mengenal tonggak-tonggak nasionalisme dengan adanya peristiwa-peristiwa antara lain: Kebangkitan nasional, Sumpah pemuda, Proklamasi serta lambang-lambang: Pancasila dan UUD 1945,bendera Merah- Putih, Bhinneka Tunggal Ika dan Burung Garuda. Sebagai “spirit of power” berbangsa yang sedang melakukan perjuangan untuk mencapai kebebasan dan kejayaan di masa yang akan datang, peristiwa dan lambang yang sudah di jadikan kekuatan nasionalisme bersama seakan hanya sebuah kesepakatan yang semu semata tanpa memiliki daya rekat sehingga kekuatannya sudah semakin tipis. Roh utama dari nasionalisme adalah adanya persatuan dan kesamaan pandang untuk membela nama baik bangsanya.
Banyaknya keinginan dan egoisme diri atas nama rakyat menjadi hal yang banyak terjadi di lakukan para pemimpin berbagai elemen masyarakat.Para pejabat dan pemimpin daerah yang lebih memikirkan daerahnya di bandingkan kepentingan kebersamaan berbangsa dan bernegara merupakan sebuah bukti nyata lemahnya nasionalisme berbangsa. Raja-raja kecil yang mengeruk keuntungan pribadi dengan topeng otonomi daerah tentu menjadi pengikis dari nasionalisme yang semakin menipis dari dalam sanubari warga negara ini. Pemimpin organisasi selalu sibuk mencari peluang untuk membesarkan organisasi yang mereka pimpin dengan mencari berbagai cara tanpa menggunakan logika dan nalar nasionalisme lagi.
Pada dimensi yang lain di dunia olah raga kita, penulis melihat banyak cabang olah raga yang mulai terkikis rasa nasionalisme di dada. Sepak bola yang merupakan cabang olah raga yang menjadi idola masyarakat seakan hanya menjadi bahan eksplorasi kepentingan sebagian manusia yang sok peduli dengan olah raga ini. Melalui olah raga seharusnya mampu membangkitkan persatuan untuk menggalang kekuatan sehingga berperan dalam prestasi  untuk mengangkat nama baik bangsa dan negara pada dunia internasional justru di jadikan ajang perebutan lahan untuk mengeruk kepentingan pribadi dan kelompok. Berbicara atas nama kelompok yang selalu bersikukuh tanpa ada kemauan untuk mencari jalan keluar agar mampu menghasilkan karya terbaik untuk bangsa ini, dengan tanpa malu kepada Sang Khalik yang tahu segalanya.
Filosofi sepak bola yang sangat membutuhkan kolektifitas tinggi dengan saling mengisi antar lini dan blok tim benar-benar hilang dari pemikiran para pengurus sepak bola ini. Kompetisi yang di gulirkan menjadi tanpa arah yang pasti, karena tidak ada ending yang di harapkan oleh masyarakat yaitu: terbentuknya tim nasional yang kuat untuk mewakili negara ini di ajang antar negara.Kompetisi hanya menjadi ajang untuk mengeruk keuntungan dari para pengelola tanpa ada tujuan untuk membentuk kekuatan timnas Indonesia.Kabar kekalahan dan terpuruknya nama bangsa dan negara di dunia luar seakan hanya menjadi berita yang biasa terjadi.” Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara” yang tertulis di dalam Undang-undang dasar 1945 menjadi bias dan tidak lagi di perhitungkan oleh para pelaku olah raga favorit masyarakat ini. 
Kita layak belajar dari pemain-pemain yang ada di luar negeri yang selalu memiliki kebanggaan tinggi terhadap panggilan tim nasional negeri mereka walaupun mereka sudah mendapat service yang memuaskan dari klub tempat mereka bermain. Kita lihat piala dunia yang baru sata di helat di penuhi dengan pelakon-pelakon sepak bola yang seharusnya melakukan kiprah di klub mereka masing-masing. Di depan kita menunggu lawan-lawan yang tangguh dalam putaran pra piala Asia, dengan kekuatan kita yang menyatu saja berat, apalagi dengan keadaan amburadul seperti ini.Tim-tim kuat yang siap menerkam kita sudah mempersiapkan diri dengan baik, mengapa kita justru menikmati untuk di lumat mereka...???          
Dari paparan di atas, penulis hanya mampu mengajak para pembaca untuk tidak pernah patah arang mengharap terjadinya proses bangkitnya Nasionalisme olah raga Indonesia . Upaya penyatuan ide dan pandangan untuk menggali potensi anak bangsa baik yang ada di dalam negeri dan yang di luar melalui proses naturalisasi guna mengangkat nama baik bangsa ini di percaturan Internasional. Hilangkan perbedaan, kepentingan diri dan kelompok yang merupakan kebanggan semu kita, mari kita menghadapi tekanan dari luar dengan menggumpalkan kekuatan kita sebagaimana para pejuang bangsa yang sudah mengorbankan harta,jiwa dan raga mereka. Marilah kita sadari dan ingat masa lalu saat kita memperjuangkan keberhasilan bangsa ini dengan bermodalkan persatuan dan kesatuan sehingga mampu meraih kemerdekaan.
                       
                                                                        Penulis
                                                -Pengurus KONI kabupaten Demak
                                                -Guru SMP N 3 Mranggen,Demak
                                                -Pemerhati masalah olah raga dan sosial


                                                                        
IMPLEMENTASI BERANI BEDA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER IPS

            Seiring majunya jaman dan perkembangan tehnologi informasi di dunia seringkali membawa perubahan peradaban manusia dalam tata pergaulan dan sosialisasi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Banyaknya gesekan pendapat dan pola pandang terhadap sebuah permasalahan antar anggota masyarakat sering mewarnai informasi baik di media cetak maupun sarana informasi lainnya. Permusuhan dan pertentangan antar insan yang bisa berdampak pada sengketa bahkan permusuhan antar kelompok banyak terjadi di masyarakat yang semakin heterogen ini.
            Hal yang demikian sering berakibat pada satu ketakutan untuk mengeluarkan kreasi dan daya inovasi di dalam menjalankan aktifitas apapun. Keberanian menyampaikan konsep baru menjadi menipis dalam sebuah sistem yang menuntut inovasi demi mencapai target yang harus di capai sebuah komunitas.Ide-ide cemerlang sirna seriring dengan tingginya ketertutupan dan lemahnya keberanian untuk menuangkan sebuah ide yang mungkin kontroversial.
            Hal ini yang mungkin harus selalu di tekankan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Berani menuangkan ide walaupun berbeda dengan kebiasaan yang terjadi saat itu. Menerima perbedaan sebagai sebuah rahmat tentu sangat di penting di ajarkan kepada siswa demi membawa mereka ke arah demokratisasi yang nyata. Keberanian untuk mengeluarkan pemikiran bahkan menyampaikan kepada orang lain harus selalu di dorong demi perubahan diri dan komunitas yang akan mewarnai bangsa ini pada masa yang akan datang.
            Berani menerima keberhasilan dan tidak sombong atas keberhasilan ide yang di terima oleh orang banyak dan menjaga kekalahan bila ide yang terlontarkan kurang atau bahkan tidak di terima oleh masyarakat adalah hal yang sangat penting di ajarkan dengan contoh-contoh yang nyata dalam kehidupan. Jangan pula asal beda yang di landasi oleh perasaan suka dan tidak suka.Sehingga akan hadir para penerus bangsa yang berkarakter berani berinovasi, kreatif dan menerima perbedaan, kekalahan dan keberhasilan dalam hidup,Amin.
                                   
                                                HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si

                                                SMPN 3 MRANGGEN,DEMAK  

Minggu, 03 Agustus 2014

KECERDASAN SOSIAL MENENTUKAN KEBERHASILAN


PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KURANG DI PERHATIKAN…?

            Berdasarkan keputusan pemerintah tentang pelaksanaan ujian nasional hanya di laksanakan terhadap 4 mata pelajaran yaitu Matematika, Bahasa Indonesia,Ilmu Pengetahuan Alam dan Bahasa Inggris. Dengan dalih untuk peningkatan kualitas pendidikan nasional negeri ini, ternyata langkah – langkah kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya terjadi di masyarakat di lakukan. Walaupaun sudah mendapat banyak masukan dari berbagai kalangan, termasuk Mahkamah Konstitusi tetapi pemerintah bersemboyan” anjing menggonggong kafilah berlalu” untuk tetap menjalankan ujian nasional. Sehingga banyak terjadi berbagai masalah akibat dari kebijakan yang di ambil pemerintah tersebut.
            Dampak negatif yang nyata akibat adanya Ujian nasional adalah menurunnya perhatian dan penghargaan siswa, orang tua dan para pengelola pendidikan dapat di lihat dari fenomena siswa mengurangi frekwensi belajar pelajaran yang tidak di uji nasional. Tidak ada orang tua yang mendorong dan menugaskan anaknya untuk belajar / les privat mata pelajaran non ujian nasional, begitu juga lembaga – lembaga bimbingan belajar tidak ada yang membuka bimbingan selain pelajaran uji nasional, Sehingga dari sana tampak jelas akan rendahnya penghargaan terhadap materi pelajaran yang di anggap bukan inti tersebut.
            Para kepala sekolah dan pejabatpun seakan lebih menghargai hasil ujian yang baik pada mata pelajaran tertentu di bandingkan Ilmu Pengetahuan Sosial. Mereka memandang memiliki gengsi dan prestise yang lebih di hadapan masyarakat.
Semua jenis mata pelajaran yang di berikan di sekolah tentunya menginginkan mendapat apresiasi yang sama dari para peserta didik, wali murid, guru, pemerintah maupun para pengelola pendidikan lainnya. Bila kita berkenan mengkaji korelasi  tentang pelajaran yang di berikan di sekolah dan permasalahan yang terjadi di masyarakat, tentunya kita harus berpikir ulang untuk hanya melaksanakan ujian nasional dengan 4 mata pelajaran yang akhirnya sangat membuat resah berbagai kalangan.

 Karena pendidikan yang sebenarnya merupakan “proses pendewasaan terhadap manusia muda”, tentu di butuhkan pengetahuan yang sangat luas tentang kejadian yang sudah lampau, yang terjadi dan akan terjadi di masyarakat, hal tersebut tentunya akan di dapatkan di pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ). Dari sana siswa akan mendapatkan informasi yang nyata tentang berbagai keadaan dan masalah yang sering terjadi dimasyarakat.
            Rendahnya rasa semangat cinta tanah air, mulai terkikisnya toleransi dan kebersamaan bernegara yang di tandai dengan melemahnya semangat untuk berprestasi demi mengangkat nama besar negara di mata international adalah salah satu bukti akan pentingnya di berikan perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran IPS. Dengan mempelajari masa lalu dan potensi yang di miliki oleh negara ini tentu akan mampu membangkitkan semangat siswa untuk berkarya demi diri, dan daerahnya sehingga semangat nasionalisme sebagai muaranya akan terbentuk dengan sendirinya. Sosialisasi dan aktualisasi diri siswa merupakan wahana untuk pematangan diri siswa sebelum mereka terjun pada kehidupan yang sebenarnya di tengah –tengah masyarakat kelak. 
Kemampuan untuk mengetahui batas wilayah daerah dan Negara yang di tempati tentu akan di ikuti dengan bangkitnya rasa cinta tanah air yang tinggi. Negara kita sangat luas dan membutuhkan kepedulian kita untuk merawat dan mengelola segala potensi yang ada di dalamnya, sehingga kita mampu membuat rencana jangka pendek dan panjang dalam rangka optimalisasi sumber daya yang kita miliki untuk cita-cita membuat rakyat yang sejahtera.
Pendidikan karakter yang coba di sodorkan oleh praktisi pendidikan ternyata hanya sebuah konsep yang tertutup oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia luar. Informasi melalui jejaring sosialdan berbagai media akan lebih mewarnai hati dan pola pikir siswa di bandingkan dengan yang d i dapatkan di bangku sekolah.Akankah nilai sosial calon penerus bangsa ini luluh tergerus oleh kemajuan jaman....???
Bila para pakar psikologi menyampaikan bahwa keberhasilan kita dalam kehidupan 80% di tentukan oleh kecerdasan emosi ( EMOTIONAL INTELLEGENSI) tentu layak untuk kita kaji bersama betapa kecerdasan emosi yang di maksudkan sangat banyak terdapat di dalam ilmu social. Ineraksi social, tata komunikasi yang santun , kemampuan mengelola dan mengerti hati orang lain merupakan hal yang sangat penting untuk di tonjolkan saat kita sampaikan mata pelajara IPS.
Sehingga penulis berpikir untuk mengajak kaum peduli pendidikan berkenan mencari cara agar pemerintah selaku pemegang kebijakan berkenan mencari alternative solusi yang lebih bijak demi perbaikan anak-anak kita di masa yang akan datang.

                                                HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si
                                                Guru IPS SMP N 3 Mranggen, Kabupaten Demak   

PENDIDIKAN ADALAH HAK WARGA NEGARA,BUKAN ALAT SEBAGIAN MANUSIA UNTUK....


PERTARUNGAN PROMOSI DI DUNIA PENDIDIKAN MENYAMBUT PESTA PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

            Setiap tahun ajaran akan berakhir maka selalu di ikuti dengan proses berikutnya yang sangat membutuhkan konsentrasi dan strategi jitu untuk membuat tercapainya tujuan yang menjadi target. Bahkan sebelum ujian penentuan kelulusan di lakukan selalu saja para pelaku pendidikan sudah membagi konsentrasi untuk mencari peserta didik yang akan mengikuti proses pembelajaran di tahun ajaran berikutnya. Sebuah sinergi dan proses yang berkesinambungan dalam rangka memenuhi harapan semua pihak yang bersinggungan dengan para pelaku peningkatan kualitas manusia muda sebagai calon objek didik.
            Benarkah yang di lakukan adalah upaya untuk memajukan dunia pendidikan kita...???. Apakah yang di lakukan tidak merusak keindahan alam...?,karena memasang baliho di sembarang tempat dan pohon. Bisakah mereka mengelola persaingan dengan positif dan tidak saling mencederai orang dan institusi lain...? Tidakkah yang terjadi hanya merupakan upaya untuk mengeruk keuntungan diri...? Sanggupkah para pelaku pendidikan melakukan upaya promosi dengan cara jujur dan mendidik...?
            Demikian banyak pertanyaan yang mengalir di dalam benak masyarakat kita dewasa ini yang peduli dengan pelestarian dan keindahan alam dalam menyikapi banyaknya fenomena pemasangan spanduk untuk memasarkan institusi diri yang ada dalam dunia pendidikan kita. Banyak cara yang dilakukan dalam rangka mencapai cita-cita dan kesejahteraan diri dan kelompok masing-masing. Banyaknya baliho yang bertebaran yang menyeberang di jalan raya seakan memberikan janji-janji yang manis kepada calon konsumen pendidikan. “Kualitas tinggi,lulus  langsung dapat kerja,gratis,pendidikan modern” adalah sebagian janji-janji yang banyak di berikan melalui spanduk-spanduk yang terpampang di jalan-jalan.
Bila kita telusuri dan lakukan pengamatan lebih mendekat ternyata tulisan yang terpajang hanya merupakan sebagian dari aksi yang di lakukan untuk menarik perhatian calon peserta didik dan orang tuannya.Kita akan lihat dan dengar banyaknya upaya lain melalui cara-cara yang mungkin agak kurang terpuji bila di kaji dari sudut pandang pendidikan bermoral dan religius.
            Pemberian yang dilakukan dengan pamrih merupakan tindakan yang kurang terpuji. Ada lembaga sekolah yang memberikan seragam sekolah, seragam pramuka, seragam olah raga kepada calon siswa yang di ikuti dengan janji-janji yang lain tentu sangat menarik untuk mereka. Kemudahan dan kenikmatan semu yang di tawarkan kepada para calon pengguna jasa pendidikan hanyalah ibarat mereka menggali lubang untuk memberikan service yang menarik, sebenarnya sebuah jebakan yang nanti akan di ikutilangkah berikutnya untuk mendapatkan keuntungan.Mereka tentu sudah memperhitungkan pula darimana galian lubang yang menganga tersebut akan di tutup agar rumah tangga institusi mereka tidak mengalami masalah.  
Bahkan ada cara yang lebih ekstrim lagi yang di lakukan untuk menarik simpati masyarakat dengan mengatrol nilai ujian. Menggunakan  segala cara yang di kembangkan oleh para panitia untuk membuat hasil siswa yang mengikuti ujian menjadi tinggi dan mendapatkan prosentase kelulusan yang tinggi.Hasil kelulusan yang tinggi,apalagi 100% akan mampu menambah daya tarik masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut.Perilaku pendidikan ketidakjujuran yang di lakukan tidak pernah tereksplor, karena rapatnya model kerahasiaan strategi yang di kembangkan. Target pemenuhan kuota kebutuhan peserta didik yang penting terpenuhi adalah tujuan utama mereka,walaupun janji-janji untuk memberikan kualitas pendidikan yang baik seakan ibarat menantikan bulan terjatuh dari langit,karena sulit untuk didapatkan oleh siswa.
Berbagai tingkatan sekolah,dari SD/MI,SMP/MTS,SMA/SMK/MA sampai perguruan tinggi memang di tuntut pendai melakukan kreasi untuk menarik peserta didik sebanyak-banyaknya. Cara-cara santun dan tidak menodai arti kejujuran dan kebenaran akan lebih baik di bandingkan dengan melakukan pembohongan publik. Pemasangan baliho dan spanduk di batang pohon di pinggir jalan tentu merupakan langkah yang kurang tepat di lakukan oleh kita insan berpendidikan. Di samping tidak sedap di pandang mata juga akan mengurangi kekuatan dan daya tahan hidup bagi tanaman di pinggir jalan.
Upaya promosi harus di lakukan oleh pembuatan produk, termasuk di dalamnya para produsen jasa pendidikan kepada calon peserta didik .Cara-cara yang inovatif dan tidak melempar janji yang sangat berat untuk di tepati tentu lebih bijaksana dan berdampak baik bagi dunia pendidikan kita.Menanggalkan “Negatif promotions” tentu akan lebih baik, karena merupakan service yang pertama kepada orang tua dan calon peserta didik.Menunjukkan karya nyata berupa perilaku yang simpatik murid yang sudah ada dan prestasi yang tinggi adalah cara bijak dan terpuji dan memiliki dampak panjang bagi promosi-promosi berikutnya di tahun ajaran depan.   
Hasil yang baik bagi peningkatan pendidikan karakter dan mencintai alam semesta demi kemajuan bangsa tentu yang sangat kita harapkan di masa yang akan datang, Tentunya kesadaran, kesabaran dan kepedulian para pelaku pendidikan untuk unjuk” pamer prestasi” tentu sangat kita harapkan dan bukan hanya unjuk “pamer janji” .Insya Allah anak-anak masa depan akan mendapatkan bimbingan yang lebih baik dan luas dalam merangkai jalan menuju keberhasilannya masing-masing sesuai bakat dan potensi yang di miliki tanpa terjerumus oleh janji –janji yang nanti akan menuntut mereka untuk membayar demi keberhasilan dan kemenangan institusi yang menjual negatif promosi,Amin

HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si
SMP.N 3 MRANGGEN,DEMAK
PEMERHATI MASALAH SOSIAL DAN OLAH RAGA.

PUISI KITA SUARA KITA



SENANDUNG KERINDUAN VII

TAPAK-TAPAK KAKI YANG KITA TINGGALKAN
MENJADI SAKSI CATATAN KEHIDUPAN
ALUNKAN TEMBANG KEHIDUPAN
CORETKAN PROSA PANJANG KEHIDUPAN
                   KILAT DAN KILAUAN LENTERA HIDUP
                   MEMBUAT SILAU DAN KIAN LUPA
                   AKAN MASA YANG TELAH PURNA
                   DUKA DAN LARA SERTA PRAHARA
TAMPANG DURJANA PELAKU ANGKARA
TAMPAK MANIS BAGAIKAN KURMA
SENYUM DAN LENGGOK TUBUH NAN MOLEK
MENGHAPUS STRATEGI DAN KISAH DUKA YANG NYATA
                   KU RINDU….HADIRNYA KEPEDULIAN
                   LEMBUT TIDAK MENIKAM HATI
                   KU RINDU….HATI YANG TIDAK MATI
                   MENGERTI DAN PUNYA RASA EMPATI

                       

SENANDUNG KERINDUAN I
Sayup suara burung malam
Kepak kelelawar tebarkan rasa kesepian
Padamkan pesona dunia kelam
Hanyutkan kokohnya tembok raksasa kehidupan
         
Sesosok tubuh berkelebat
          Sesungging senyum melintas
          Sayup hadirkan dendang kerinduan
          Masa lalu yang sudah terlalui

Wajah lembut nan sayu
Tubuh indah menawan
Keceriaan berbalut luka
Bangkitkan hasrat untuk berjumpa
         
Nyanyian alam
          Alunkan nada-nada kehilangan
          Senandungkan kidung kerinduan.....
Hery Sarwanto
SMPN 3 Mranggen, Demak
                                       


SENANDUNG KERINDUAN II
Kemunafikan...
Gambarkan usainya sebuah kebenaran
Hilangnya naluri kemanusiaan
Terhempasnya kejujuran
       
Ketertutupan...
        Bangkitkan rasa keingintahuan
        Suburkan skenario persekongkolan
        Sirami benih-benih penipuan

Ku rindu... indahnya kebersamaan
Ku rindu... akan kejujuran
Ku rindu... pesona kebenaran
Menyanyikan senandung rindu keberhasilan



Hery Sarwanto
SMPN 3 Mranggen, Demak
                                        SENANDUNG KERINDUAN III

Rangkaian kata tertata untuk sang Raja
Rangkaian Alibi warnai sensasi
Bangkitkan gelora di dalam dada
Obsesi tinggi tanpa nurani
         
Buah karya tanpa rasa
          sejuta noda tiada warna
          Aroma dusta dalam sketsa
          Dinamika Irama angkara

Seuntai bunga  aroma keberhasilan
Menguak badai kedustaan
Bangunkan dari nista kebodohan
Bangkitkan etos perjuangan
         
Ku sentuh dengan kelembutan
          Ku sayat penuh kemesraan
          Ku bongkar nuansa ketidak harmonisan
          Ku rindukan kebersamaan... Untuk Keberhasilan
                                        Hery Sarwanto
SMPN 3 Mranggen, Demak
                                       


SENANDUNG KERINDUAN  IV
Sejuta hasrat untuk bersua
Beribu riang berbalut  lara
Pesona nikmat dalam surga
Mengalun tembang penantian insan yang rela
Tinggalkan rasa letih dalam dada
Menghalau nafsu dan angkara
Bangkitkan gelora kasih sesama
Alirkan gemericik langgam kebersamaan
Hati...hati nan perkasa
Tafakkur dalam do’a dan sembah-NYA
Hasrat raih segala rahmat
Rengkuh indahnya do’a dan pengampunan
                                Marhaban Ya Ramadhan
                                Bulan penuh rahmat dan ampunan
                                Ungkapkan rindu kasih Ilahi
                                Dari hati insan yang bernurani
Alqur’an penuh mukjiyat lahir bersamamu
Lailatul qodar penuh Rahmat menyertaimu
Bangkitkan rinduku....
Atas rangkaian nikmat dan karunia-MU

                                                                                                BY: HERY SARWANTO





                                SENANDUNG KERINDUAN  V
Dingin menggigil
Derita di antara sejuta karya
Tatanan etalase terpancar ke angkasa
Ciptakan gending lembut berasa hampa
                        Angan-angan yang terbang ke awan
                        Ciptakan jaring laba-laba kekuasaan
                        Rintih dan perih tiada berarti
                        Tangisan tak jadi hambatan ambisi
Ambisi yang matikan empati diri
Tinggi hati hilangkan rasa peduli
Ku rindu... hadirnya kepedulian
Ku rindu... senyuman lahir dari hati terdalam...tanpa keterpaksaan


                                                                                                                BY: HERY SARWANTO


SENANDUNG KERINDUAN VI
Gemeretak menggelegar di udara
Suara hati nan lara
Aroma dusta
Bangkitkan genderang arogansi nyata
                Suara-suara tanpa birama
                Hadirkan hari penuh lara
                Luluhkan semangat kreasi dan ide kerja
                Bangkitkan rasa malas untuk berkarya
Ide-ide persekongkolan
Wajah-wajah penuh muslihat
Tembang dusta dan durjana pimpinan
Tanpa irama duli dan kebersamaan
                Ku rindu.....hadirnya rasa empati
                Ku rindu.....suara lembut dari dalam hati
                Alunkan tembang kesamaan penghargaan
                Lukiskan nuansa adil dan melihat kenyataan


                                                BY: HERY SARWANTO