kreatifitas adalah upaya perbaikan
kreatifitas berdasar masa lalu
kreatifitas dengan kebersamaan
kreatifitas menghasilkan perubahan menuju perbaikan....
Minggu, 06 September 2015
Jumat, 04 September 2015
SATU KARYA BERJUTA MAKNA
BERMAIN KARAMBOL
BANYAK ORANG MELAKUKAN SATU UNTUK SATUDUA UNTUK DUA
TIGA UNTUK TIGA
BANYAK PULA YANG MELAKUKAN SATU UNTUK DUA
SATU UNTUK TIGA
BAHKAN SATU UNTUK RATUSAN HINGGA RIBUAN
KITA MAU YANG SEPERTI APA
SILAHKAN........
Jumat, 19 Juni 2015
SEMANGAT BERKARYA
BERKARYA UNTUK ORANG TUA
BERKARYA UNTUK KELUARGA
BERKARYA UNTUK ORANG LAIN
BERKARYA UNTUK DAERAH
BERKARYA UNTUK NEGARA
BERKARYA DALAM RANGKA IBADAH
MENUNGGU KABUPATEN DEMAK BERGELIAT
Rabu, 26 November 2014
RUNTUHNYA
NASIONALISME OLAH RAGA KITA
OLEH:HERY
SARWANTO,S.Pd,M.Si
Kondisi
dunia yang semakin pelik dengan berbagai permasalahan yang mendera di dalamnya
ternyata sangat berpengaruh terhadap cara pandang manusianya dalam menentukan
langkah untuk pemenuhan kebutuhan dirinya. Perbedaan-perbedaan cara pandang
untuk menggapai keberhasilan hidup berdampak luas terhadap langkah-langkah yang
harus di tempuh dalam prosesnya. Logika dan teori yang di kembangkan memiliki
tingkat kekuatan dengan dasar langkah sendiri-sendiri yang berasumsi dasarnya
hanya untuk keberhasilan diri sendiri dan kelompok mereka. Mencari konsep dan
dasar yang kuat untuk pondasi langkah guna mempertahankan kebenaran diri
menjadi strategi jitu untuk benteng penguatan kelompok-kelompok kecil yang
ingin mendapatkan kemenangan yang semu menodai kebersamaan nasional.
Nasionalisme
adalah sebuah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah
negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas
bersama untuk sekelompok manusia. Dalam proses kehidupan berbangsa Indonesia
kita mengenal tonggak-tonggak nasionalisme dengan adanya peristiwa-peristiwa
antara lain: Kebangkitan nasional, Sumpah pemuda, Proklamasi serta
lambang-lambang: Pancasila dan UUD 1945,bendera Merah- Putih, Bhinneka Tunggal
Ika dan Burung Garuda. Sebagai “spirit of
power” berbangsa yang sedang melakukan perjuangan untuk mencapai kebebasan
dan kejayaan di masa yang akan datang, peristiwa dan lambang yang sudah di
jadikan kekuatan nasionalisme bersama seakan hanya sebuah kesepakatan yang semu
semata tanpa memiliki daya rekat sehingga kekuatannya sudah semakin tipis. Roh
utama dari nasionalisme adalah adanya persatuan dan kesamaan pandang untuk
membela nama baik bangsanya.
Banyaknya
keinginan dan egoisme diri atas nama rakyat menjadi hal yang banyak terjadi di
lakukan para pemimpin berbagai elemen masyarakat.Para pejabat dan pemimpin
daerah yang lebih memikirkan daerahnya di bandingkan kepentingan kebersamaan
berbangsa dan bernegara merupakan sebuah bukti nyata lemahnya nasionalisme
berbangsa. Raja-raja kecil yang mengeruk keuntungan pribadi dengan topeng
otonomi daerah tentu menjadi pengikis dari nasionalisme yang semakin menipis
dari dalam sanubari warga negara ini. Pemimpin organisasi selalu sibuk mencari
peluang untuk membesarkan organisasi yang mereka pimpin dengan mencari berbagai
cara tanpa menggunakan logika dan nalar nasionalisme lagi.
Pada
dimensi yang lain di dunia olah raga kita, penulis melihat banyak cabang olah
raga yang mulai terkikis rasa nasionalisme di dada. Sepak bola yang merupakan
cabang olah raga yang menjadi idola masyarakat seakan hanya menjadi bahan
eksplorasi kepentingan sebagian manusia yang sok peduli dengan olah raga ini.
Melalui olah raga seharusnya mampu membangkitkan persatuan untuk menggalang
kekuatan sehingga berperan dalam prestasi untuk mengangkat nama baik bangsa dan negara
pada dunia internasional justru di jadikan ajang perebutan lahan untuk mengeruk
kepentingan pribadi dan kelompok. Berbicara atas nama kelompok yang selalu
bersikukuh tanpa ada kemauan untuk mencari jalan keluar agar mampu menghasilkan
karya terbaik untuk bangsa ini, dengan tanpa malu kepada Sang Khalik yang tahu
segalanya.
Filosofi
sepak bola yang sangat membutuhkan kolektifitas tinggi dengan saling mengisi
antar lini dan blok tim benar-benar hilang dari pemikiran para pengurus sepak
bola ini. Kompetisi yang di gulirkan menjadi tanpa arah yang pasti, karena
tidak ada ending yang di harapkan oleh masyarakat yaitu: terbentuknya tim
nasional yang kuat untuk mewakili negara ini di ajang antar negara.Kompetisi
hanya menjadi ajang untuk mengeruk keuntungan dari para pengelola tanpa ada
tujuan untuk membentuk kekuatan timnas Indonesia.Kabar kekalahan dan
terpuruknya nama bangsa dan negara di dunia luar seakan hanya menjadi berita
yang biasa terjadi.” Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
usaha pembelaan negara” yang tertulis di dalam Undang-undang dasar 1945 menjadi
bias dan tidak lagi di perhitungkan oleh para pelaku olah raga favorit
masyarakat ini.
Kita
layak belajar dari pemain-pemain yang ada di luar negeri yang selalu memiliki
kebanggaan tinggi terhadap panggilan tim nasional negeri mereka walaupun mereka
sudah mendapat service yang memuaskan dari klub tempat mereka bermain. Kita
lihat piala dunia
yang baru sata di helat di penuhi dengan pelakon-pelakon sepak bola yang
seharusnya melakukan kiprah di klub mereka masing-masing. Di depan kita
menunggu lawan-lawan yang tangguh dalam putaran pra piala Asia, dengan kekuatan
kita yang menyatu saja berat, apalagi dengan keadaan amburadul seperti
ini.Tim-tim kuat yang siap menerkam kita sudah mempersiapkan diri dengan baik,
mengapa kita justru menikmati untuk di lumat mereka...???
Dari
paparan di atas, penulis hanya mampu mengajak para pembaca untuk tidak pernah
patah arang mengharap terjadinya proses bangkitnya Nasionalisme olah raga
Indonesia . Upaya penyatuan ide dan pandangan untuk menggali potensi anak
bangsa baik yang ada di dalam negeri dan yang di luar melalui proses
naturalisasi guna mengangkat nama baik bangsa ini di percaturan Internasional.
Hilangkan perbedaan, kepentingan diri dan kelompok yang merupakan kebanggan
semu kita, mari kita menghadapi tekanan dari luar dengan menggumpalkan kekuatan
kita sebagaimana para pejuang bangsa yang sudah mengorbankan harta,jiwa dan
raga mereka. Marilah kita sadari dan ingat masa lalu saat kita memperjuangkan
keberhasilan bangsa ini dengan bermodalkan persatuan dan kesatuan sehingga
mampu meraih kemerdekaan.
Penulis
-Pengurus
KONI kabupaten Demak
-Guru
SMP N 3 Mranggen,Demak
-Pemerhati
masalah olah raga dan sosial
IMPLEMENTASI
BERANI BEDA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER IPS
Seiring majunya jaman dan
perkembangan tehnologi informasi di dunia seringkali membawa perubahan
peradaban manusia dalam tata pergaulan dan sosialisasi manusia dalam kehidupan
sehari-hari. Banyaknya gesekan pendapat dan pola pandang terhadap sebuah permasalahan
antar anggota masyarakat sering mewarnai informasi baik di media cetak maupun
sarana informasi lainnya. Permusuhan dan pertentangan antar insan yang bisa
berdampak pada sengketa bahkan permusuhan antar kelompok banyak terjadi di
masyarakat yang semakin heterogen ini.
Hal yang demikian sering berakibat
pada satu ketakutan untuk mengeluarkan kreasi dan daya inovasi di dalam
menjalankan aktifitas apapun. Keberanian menyampaikan konsep baru menjadi
menipis dalam sebuah sistem yang menuntut inovasi demi mencapai target yang
harus di capai sebuah komunitas.Ide-ide cemerlang sirna seriring dengan
tingginya ketertutupan dan lemahnya keberanian untuk menuangkan sebuah ide yang
mungkin kontroversial.
Hal ini yang mungkin harus selalu di
tekankan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Berani menuangkan ide
walaupun berbeda dengan kebiasaan yang terjadi saat itu. Menerima perbedaan
sebagai sebuah rahmat tentu sangat di penting di ajarkan kepada siswa demi
membawa mereka ke arah demokratisasi yang nyata. Keberanian untuk mengeluarkan
pemikiran bahkan menyampaikan kepada orang lain harus selalu di dorong demi
perubahan diri dan komunitas yang akan mewarnai bangsa ini pada masa yang akan
datang.
Berani menerima keberhasilan dan
tidak sombong atas keberhasilan ide yang di terima oleh orang banyak dan
menjaga kekalahan bila ide yang terlontarkan kurang atau bahkan tidak di terima
oleh masyarakat adalah hal yang sangat penting di ajarkan dengan contoh-contoh
yang nyata dalam kehidupan. Jangan pula asal beda yang di landasi oleh perasaan
suka dan tidak suka.Sehingga akan hadir para penerus bangsa yang berkarakter
berani berinovasi, kreatif dan menerima perbedaan, kekalahan dan keberhasilan
dalam hidup,Amin.
HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si
SMPN
3 MRANGGEN,DEMAK
Minggu, 03 Agustus 2014
KECERDASAN SOSIAL MENENTUKAN KEBERHASILAN
PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KURANG DI PERHATIKAN…?
Berdasarkan keputusan pemerintah
tentang pelaksanaan ujian nasional hanya di laksanakan terhadap 4 mata
pelajaran yaitu Matematika, Bahasa Indonesia,Ilmu Pengetahuan Alam dan Bahasa
Inggris. Dengan dalih untuk peningkatan kualitas pendidikan nasional negeri
ini, ternyata langkah – langkah kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya terjadi di masyarakat di lakukan. Walaupaun sudah
mendapat banyak masukan dari berbagai kalangan, termasuk Mahkamah Konstitusi
tetapi pemerintah bersemboyan” anjing menggonggong kafilah berlalu” untuk tetap
menjalankan ujian nasional. Sehingga banyak terjadi berbagai masalah akibat
dari kebijakan yang di ambil pemerintah tersebut.
Dampak negatif yang nyata akibat
adanya Ujian nasional adalah menurunnya perhatian dan penghargaan siswa, orang
tua dan para pengelola pendidikan dapat di lihat dari fenomena siswa mengurangi
frekwensi belajar pelajaran yang tidak di uji nasional. Tidak ada orang tua
yang mendorong dan menugaskan anaknya untuk belajar / les privat mata pelajaran
non ujian nasional, begitu juga lembaga – lembaga bimbingan belajar tidak ada
yang membuka bimbingan selain pelajaran uji nasional, Sehingga dari sana tampak
jelas akan rendahnya penghargaan terhadap materi pelajaran yang di anggap bukan
inti tersebut.
Para
kepala sekolah dan pejabatpun seakan lebih menghargai hasil ujian yang baik
pada mata pelajaran tertentu di bandingkan Ilmu Pengetahuan Sosial. Mereka
memandang memiliki gengsi dan prestise yang lebih di hadapan masyarakat.
Semua
jenis mata pelajaran yang di berikan di sekolah tentunya menginginkan mendapat
apresiasi yang sama dari para peserta didik, wali murid, guru, pemerintah
maupun para pengelola pendidikan lainnya. Bila kita berkenan mengkaji
korelasi tentang pelajaran yang di
berikan di sekolah dan permasalahan yang terjadi di masyarakat, tentunya kita
harus berpikir ulang untuk hanya melaksanakan ujian nasional dengan 4 mata
pelajaran yang akhirnya sangat membuat resah berbagai kalangan.
Karena pendidikan yang sebenarnya merupakan
“proses pendewasaan terhadap manusia muda”, tentu di butuhkan pengetahuan yang
sangat luas tentang kejadian yang sudah lampau, yang terjadi dan akan terjadi
di masyarakat, hal tersebut tentunya akan di dapatkan di pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial ( IPS ). Dari sana siswa akan mendapatkan informasi yang
nyata tentang berbagai keadaan dan masalah yang sering terjadi dimasyarakat.
Rendahnya rasa semangat cinta tanah
air, mulai terkikisnya toleransi dan kebersamaan bernegara yang di tandai
dengan melemahnya semangat untuk berprestasi demi mengangkat nama besar negara
di mata international adalah salah satu bukti akan pentingnya di berikan perhatian
yang lebih terhadap mata pelajaran IPS. Dengan mempelajari masa lalu dan
potensi yang di miliki oleh negara ini tentu akan mampu membangkitkan semangat
siswa untuk berkarya demi diri, dan daerahnya sehingga semangat nasionalisme
sebagai muaranya akan terbentuk dengan sendirinya. Sosialisasi dan aktualisasi
diri siswa merupakan wahana untuk pematangan diri siswa sebelum mereka terjun
pada kehidupan yang sebenarnya di tengah –tengah masyarakat kelak.
Kemampuan
untuk mengetahui batas wilayah daerah dan Negara yang di tempati tentu akan di
ikuti dengan bangkitnya rasa cinta tanah air yang tinggi. Negara kita sangat
luas dan membutuhkan kepedulian kita untuk merawat dan mengelola segala potensi
yang ada di dalamnya, sehingga kita mampu membuat rencana jangka pendek dan
panjang dalam rangka optimalisasi sumber daya yang kita miliki untuk cita-cita
membuat rakyat yang sejahtera.
Pendidikan karakter
yang coba di sodorkan oleh praktisi pendidikan ternyata hanya sebuah konsep
yang tertutup oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia luar. Informasi
melalui jejaring sosialdan berbagai media akan lebih mewarnai hati dan pola
pikir siswa di bandingkan dengan yang d i dapatkan di bangku sekolah.Akankah
nilai sosial calon penerus bangsa ini luluh tergerus oleh kemajuan jaman....???
Bila
para pakar psikologi menyampaikan bahwa keberhasilan kita dalam kehidupan 80%
di tentukan oleh kecerdasan emosi ( EMOTIONAL INTELLEGENSI) tentu layak untuk
kita kaji bersama betapa kecerdasan emosi yang di maksudkan sangat banyak terdapat
di dalam ilmu social. Ineraksi social, tata komunikasi yang santun , kemampuan
mengelola dan mengerti hati orang lain merupakan hal yang sangat penting untuk
di tonjolkan saat kita sampaikan mata pelajara IPS.
Sehingga
penulis berpikir untuk mengajak kaum peduli pendidikan berkenan mencari cara
agar pemerintah selaku pemegang kebijakan berkenan mencari alternative solusi
yang lebih bijak demi perbaikan anak-anak kita di masa yang akan datang.
HERY
SARWANTO,S.Pd,M.Si
Guru
IPS SMP N 3 Mranggen, Kabupaten Demak
PENDIDIKAN ADALAH HAK WARGA NEGARA,BUKAN ALAT SEBAGIAN MANUSIA UNTUK....
PERTARUNGAN PROMOSI DI DUNIA PENDIDIKAN MENYAMBUT
PESTA PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU
Setiap
tahun ajaran akan berakhir maka selalu di ikuti dengan proses berikutnya yang
sangat membutuhkan konsentrasi dan strategi jitu untuk membuat tercapainya
tujuan yang menjadi target. Bahkan sebelum ujian penentuan kelulusan di lakukan
selalu saja para pelaku pendidikan sudah membagi konsentrasi untuk mencari
peserta didik yang akan mengikuti proses pembelajaran di tahun ajaran
berikutnya. Sebuah sinergi dan proses yang berkesinambungan dalam rangka memenuhi
harapan semua pihak yang bersinggungan dengan para pelaku peningkatan kualitas
manusia muda sebagai calon objek didik.
Benarkah yang di lakukan adalah
upaya untuk memajukan dunia pendidikan kita...???. Apakah yang di lakukan tidak
merusak keindahan alam...?,karena memasang baliho di sembarang tempat dan
pohon. Bisakah mereka mengelola persaingan dengan positif dan tidak saling
mencederai orang dan institusi lain...? Tidakkah yang terjadi hanya merupakan
upaya untuk mengeruk keuntungan diri...? Sanggupkah para pelaku pendidikan
melakukan upaya promosi dengan cara jujur dan mendidik...?
Demikian banyak pertanyaan yang
mengalir di dalam benak masyarakat kita dewasa ini yang peduli dengan
pelestarian dan keindahan alam dalam menyikapi banyaknya fenomena pemasangan
spanduk untuk memasarkan institusi diri yang ada dalam dunia pendidikan kita.
Banyak cara yang dilakukan dalam rangka mencapai cita-cita dan kesejahteraan
diri dan kelompok masing-masing. Banyaknya baliho yang bertebaran yang
menyeberang di jalan raya seakan memberikan janji-janji yang manis kepada calon
konsumen pendidikan. “Kualitas tinggi,lulus
langsung dapat kerja,gratis,pendidikan modern” adalah sebagian
janji-janji yang banyak di berikan melalui spanduk-spanduk yang terpampang di
jalan-jalan.
Bila
kita telusuri dan lakukan pengamatan lebih mendekat ternyata tulisan yang
terpajang hanya merupakan sebagian dari aksi yang di lakukan untuk menarik
perhatian calon peserta didik dan orang tuannya.Kita akan lihat dan dengar
banyaknya upaya lain melalui cara-cara yang mungkin agak kurang terpuji bila di
kaji dari sudut pandang pendidikan bermoral dan religius.
Pemberian yang dilakukan dengan
pamrih merupakan tindakan yang kurang terpuji. Ada lembaga sekolah yang
memberikan seragam sekolah, seragam pramuka, seragam olah raga kepada calon
siswa yang di ikuti dengan janji-janji yang lain tentu sangat menarik untuk
mereka. Kemudahan dan kenikmatan semu yang di tawarkan kepada para calon
pengguna jasa pendidikan hanyalah ibarat mereka menggali lubang untuk
memberikan service yang menarik, sebenarnya sebuah jebakan yang nanti akan di
ikutilangkah berikutnya untuk mendapatkan keuntungan.Mereka tentu sudah
memperhitungkan pula darimana galian lubang yang menganga tersebut akan di
tutup agar rumah tangga institusi mereka tidak mengalami masalah.
Bahkan
ada cara yang lebih ekstrim lagi yang di lakukan untuk menarik simpati masyarakat
dengan mengatrol nilai ujian. Menggunakan segala cara yang di kembangkan oleh para
panitia untuk membuat hasil siswa yang mengikuti ujian menjadi tinggi dan
mendapatkan prosentase kelulusan yang tinggi.Hasil kelulusan yang
tinggi,apalagi 100% akan mampu menambah daya tarik masyarakat untuk
mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut.Perilaku pendidikan ketidakjujuran
yang di lakukan tidak pernah tereksplor, karena rapatnya model kerahasiaan
strategi yang di kembangkan. Target pemenuhan kuota kebutuhan peserta didik
yang penting terpenuhi adalah tujuan utama mereka,walaupun janji-janji untuk
memberikan kualitas pendidikan yang baik seakan ibarat menantikan bulan
terjatuh dari langit,karena sulit untuk didapatkan oleh siswa.
Berbagai
tingkatan sekolah,dari SD/MI,SMP/MTS,SMA/SMK/MA sampai perguruan tinggi memang
di tuntut pendai melakukan kreasi untuk menarik peserta didik
sebanyak-banyaknya. Cara-cara santun dan tidak menodai arti kejujuran dan
kebenaran akan lebih baik di bandingkan dengan melakukan pembohongan publik.
Pemasangan baliho dan spanduk di batang pohon di pinggir jalan tentu merupakan
langkah yang kurang tepat di lakukan oleh kita insan berpendidikan. Di samping
tidak sedap di pandang mata juga akan mengurangi kekuatan dan daya tahan hidup
bagi tanaman di pinggir jalan.
Upaya
promosi harus di lakukan oleh pembuatan produk, termasuk di dalamnya para
produsen jasa pendidikan kepada calon peserta didik .Cara-cara yang inovatif
dan tidak melempar janji yang sangat berat untuk di tepati tentu lebih bijaksana
dan berdampak baik bagi dunia pendidikan kita.Menanggalkan “Negatif promotions” tentu akan lebih baik, karena merupakan
service yang pertama kepada orang tua dan calon peserta didik.Menunjukkan karya
nyata berupa perilaku yang simpatik murid yang sudah ada dan prestasi yang
tinggi adalah cara bijak dan terpuji dan memiliki dampak panjang bagi
promosi-promosi berikutnya di tahun ajaran depan.
Hasil
yang baik bagi peningkatan pendidikan karakter dan mencintai alam semesta demi
kemajuan bangsa tentu yang sangat kita harapkan di masa yang akan datang,
Tentunya kesadaran, kesabaran dan kepedulian para pelaku pendidikan untuk unjuk” pamer prestasi” tentu sangat kita
harapkan dan bukan hanya unjuk “pamer
janji” .Insya Allah anak-anak masa depan akan mendapatkan bimbingan yang
lebih baik dan luas dalam merangkai jalan menuju keberhasilannya masing-masing
sesuai bakat dan potensi yang di miliki tanpa terjerumus oleh janji –janji yang
nanti akan menuntut mereka untuk membayar demi keberhasilan dan kemenangan
institusi yang menjual negatif promosi,Amin
HERY SARWANTO,S.Pd,M.Si
SMP.N 3 MRANGGEN,DEMAK
PEMERHATI MASALAH SOSIAL DAN OLAH RAGA.
Langganan:
Postingan (Atom)


